Sejarah Pertanian dan 5+ Fakta Tentang Pertanian Terlengkap

Sejarah Pertanian dan 5+ Fakta Tentang Pertanian Terlengkap

Sejarah Pertanian- Seperti yang kita tau, pertanian adalah salah satu aktifitas terbanyak yang digeluti oleh para masyarakat Indonesia. 

Di Indonesia pertanian sudah dikenal sejak zaman 3000 tahun sebelum kolonial Belanda masuk ke Indonesia.

Hmm kira-kira bagaimana ya sejarah pertanian di Indonesia dan dunia ? Tenang artikel ini akan membantu kamu untuk mengerti dan memahami sejarah pertanian di Inodnesia.

Pertanian merupakan aktivitas pemanfaatan sumber energi biologi yang dicoba manusia untuk menciptakan bahan pangan, bahan baku industri, ataupun sumber tenaga, dan mengelola area hidupnya.

Pemanfaatan sumber energi biologi yang difahami didalam pertanian biasa hanya sebatas budidaya tumbuhan ataupun bercocok tanam crop cultivation dan pemeliharaan hewan ternak saja.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, pertanian memiliki banyak jangkauan diantaranya dapat berbentuk pemanfaatan mikroorganisme serta bioenzim dalam pengolahan produk lanjutan, seperti pembuatan keju dan tempe, ataupun hanya ekstraksi semata, semacam penangkapan ikan ataupun eksploitasi hutan.

Para ilmuan pertanian mengkaji pertanian dengan dasaran ilmu-ilmu pendukungnya. Sebab pertanian berhubungan dengan ruang, waktu dan ilmu- ilmu pendukung, seperti ilmu tanah, meteorologi, metode pertanian, biokimia, serta statistika pula dipelajari dalam pertanian. 

Usaha tani( farming) merupakan bagian inti dari pertanian sebab menyangkut sekumpulan aktivitas yang dicoba dalam budidaya.”Petani” merupakan istilah untuk mereka yang menyelenggarakan usaha tani, bagaikan contoh “petani tembakau” dan “petani ikan”.

Sejarah Pertanian Dunia

Masa Orde Baru( 1967- 1997)

Di Tahun 1974

Pada tahun inilah sejarah pertanian dimulai dibangun Badan Litbang Pertanian. Keppres tahun 1974 dan 1979 menetapkan jika Badan Litbang Pertanian adalah bagaikan unit Eselon I, membawahi 12 unit Eselon II,

12 bawahan Eselon diantaranya adalah :

  • 1 Sekretariat 
  • 4 Pusat( Pusat Penyiapan Program, Pusat Pengolahan Informasi Statistik, Pusat Bibliotek Hayati serta Pertanian, serta Pusat Karantina Pertanian)
  • 2 Pusat Riset( Puslit Tanah serta Puslit Agro- Ekonomi)
  • 5 Pusat Riset Pengembangan( Puslitbang Tumbuhan Pangan, Puslitbang Tumbuhan Industri, Puslitbang Kehutanan, Puslitbang Peternakan, serta Puslitbang Perikanan).

Pada tahun 1980

Berdirinya Kementerian Koperasi secara khusus, buat untuk menolong kalangan petani lemah di luar Jawa serta Bali untuk membangun usaha tani berskala lebih besar. 

Setelah koperasi diterima sebagai satuan ekonomi yang mendasar dalam meningkatkan ekonomi pribumi,kawasan desa dirangsang supaya membentuk koperasi primer.

Tetapi tentunya ada beberapa permasalahan yang dialami diantaranya adalah kekurangan modal, manajemen lemah, kesusahan menjangkau pasaran karena ikut para pagang mengikuti perdagangan perantara. 

Dan karena itu koperasi dianggap melakukan “ paksaan” sehingga namanya koperasi telah tercemar dan ubah menjadi BUUD.

Pada Tahun 1983

Berdasarkan pada Kepres Nomor. 24 tahun 1983, terjalin reorganisasi di Badan Litbang Pertanian yang terdiri 

  • Sekretariat
  • Pusat Informasi Statistik
  • Pusat Bibliotek Pertanian
  • Puslit Tanah
  • Puslit Agro- Ekonomi
  • Puslitbang Tumbuhan Pangan
  • Puslitbang Tumbuhan Industri
  • Puslitbang Hortikultura
  • Puslitbang Peternakan
  • Puslitbang Perikanan

Pada Tahun 1993 

Cocok dengan Keppres Nomor. 83 tahun 1993 dibangun Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) dan Loka Pengkajian Teknologi Pertanian( LPTP) yang tersebar di provinsi Indonesia. Tidak hanya itu, terjadi pembuatan 2 unit organisasi BPTP di 2 Provinsi, yaitu Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kepulauan Bangka Belitung( Kepmentan Nomor. 633/ Kpts/ OT. 140/ 12/ 2003).

Pada Era 1945- 1967

Pada Tahun 1960

Pada tahun ini lahirlah UU Nomor. 5/ 1960 yang berisi tentang Peraturan Dasar Pokok- pokok Agraria( UUPA) yaitu bertepatan pada 24 September 1960. Kelahiran UUPA melewati proses panjang, memakan waktu 12 tahun. 

Diawali dengan pembentukan “Panitia Agraria Yogya” (1948), “Panitia Agraria Jakarta” (1951),  “Panitia Soewahjo” (1955),” Panitia Negeri Urusan Agraria” (1956), “Rancangan Soenarjo” (1958), “Rancangan Sadjarwo” (1960), pada akhirnya digodok serta diterima bundar Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong( DPR- GR), yang kala itu dipandu Haji Zainul Arifin. 

Kemunculan UUPA memiliki 2 arti besar untuk kehidupan bangsa serta negeri Indonesia. Pertama, UUPA bermakna sebagai upaya mewujudkan amanat dari Pasal 33 Ayat( 3) UUD 1945( Naskah Asli), yang melaporkan, “Bumi serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negeri dan digunakan buat sebesar- besar kemakmuran rakyat”. 

Kedua, UUPA bermakna sebagai penjungkirbalikan hukum agraria kolonial dan temuan hukum agraria nasional yang bersendikan kenyataan lapisan kehidupan rakyatnya. Tujuan UUPA pada pokoknya meletakkan dasar- dasar untuk penyusunan hukum agraria nasional, mengadakan kesatuan dan kesederhanaan dalam hukum pertanahan, dan meletakkan dasar-dasar kepastian hukum hak-hak atas tanah untuk segala rakyat. 

Seluruhnya sekedar buat mewujudkan kemakmuran, kebahagiaan, keadilan untuk negeri serta rakyat, paling utama rakyat tani, dalam mengarah warga adil serta makmur. Sesungguhnya apa yang tersurat ataupun tersirat dari tujuan UUPA, pada hakikatnya adalah pemahaman serta jawaban bangsa Indonesia atas keserakahan serta kekejaman hukum agraria kolonial.

Era Sebelum kemerdekaan (1900-1945)

Pada Tahun 1918

Berdiri Balai Besar Penyelidikan Pertanian (Algemeen Proefstation voor den Landbouw), yang kemudian semenjak tahun 1949 menjadi Jawatan Penyelidikan Pertanian, lalu 1952 menjadi Balai Besar Penyelidikan Pertanian / General Agriculture Experiment Station (Algemeen Proefstation voor den Landbouw). 

Selanjutnya tahun 1966 menjadi Lembaga Pusat Penelitian Pertanian, tahun 1980 berubah lagi menjadi Balai Penelitian Tanaman Bogor (Balittan), tahun 1994 menjadi Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan (Balitbio), tahun 2002 menjadi Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (Balitbiogen), dan terakhir tahun 2003 berganti nama menjadi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB-Biogen).

Masa abad ke- 19

1811- 1816 

Sistem pajak tanah yang dikenalkan oleh Raffles sudah membawa sebagian perkara terhadap kalangan feodal Jawa di daerah-daerah taklukan dan pergantian berbentuk sistem kepemilikan tanah oleh desa. 

Kekecewaan para feodal terhadap sistem ini sudah mendorong lahirnya pemberontakan kerajaan. Lalu pemberontakan ini itu lebih diketahui dengan Perang Jawa ataupun perang Diponegoro.

1830- 1870

Masa Tanam paksa (cultuur stelsel) Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch mengharuskan tiap desa wajib menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk ditanami komoditi ekspor spesialnya kopi, tebu, nila. 

Hasil tumbuhan ini hendak dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang telah ditentukan serta hasil panen diserahkan kepada pemerintah kolonial. Penduduk desa yang tidak mempunyai tanah wajib bekerja 75 hari dalam setahun (20%) pada kebun- kebun kepunyaan pemerintah yang jadi semacam pajak.

Pada prakteknya peraturan itu bisa dikatakan tidak berarti sebab segala daerah pertanian harus ditanami tumbuhan ekspor dan hasilnya diserahkan kepada pemerintahan Belanda. 

Daerah yang digunakan untuk praktek cultur stelstel juga senantiasa dikenakan pajak. Masyarakat yang tidak mempunyai lahan pertanian harus bekerja sepanjang setahun penuh di lahan pertanian.

Tanam paksa merupakan masa sangat eksploitatif dalam praktek ekonomi Hindia Belanda. Sistem tanam paksa ini jauh lebih keras dan kejam dibandingkan sistem dominasi VOC karena terdapat target pendapatan penerimaan negeri yang sangat diperlukan pemerintah.

Petani pada zaman VOC harus menjual komoditi tertentu pada VOC, saat ini wajib menanam tumbuhan dan tertentu menjualnya dengan harga yang diresmikan kepada pemerintah. 

Peninggalan tanam paksa inilah yang memberikan sumbangan besar untuk modal pada era keemasan kolonialis liberal Hindia-Belanda pada 1835 sampai 1940. 

Akibat sistem yang memakmurkan serta menyejahterakan negara Belanda ini, Van den Bosch selaku penggagas dianugerahi gelar Graaf oleh raja Belanda, pada 25 Desember 1839.

Pada Tahun 1870

Lahirnya hukum agraria kolonial yang tertuang dalam Agrarische Wet 1870. Dalam ketentuan ini dipastikan terdapat Hak Erfpacht hingga selama 75 tahun, serta menjamin pemegang hak itu untuk memakai Hak Eigendom, dan berikan kesempatan kepada mereka bisa memakai tanahnya sebagai agunan kredit.

Lahirnya Agrarische Wet 1870 dipengaruhi atas desakan kepentingan owner modal swasta Belanda untuk berbisnis perkebunan besar di negara jajahannya. 

Sebelumnya, di masa culturr stelsel, mereka hanya diperbolehkan sebatas menyewa tanah. Akibat dari hukum kolonial terhadap rakyat tani Indonesia, hanya memperkenalkan sejarah kelam kemelaratan, kemiskinan, keterbelakangan serta penindasan.

Pada Tahun 1890

Dimulainya “Politik Etnik”, adalah gerakan oposisi kalangan sosialis di Belanda yang setelah itu mempengaruhi kepada golongan-golongan Belanda-Hindia pula. Yaitu mulai diterapkan pelayanan kesehatan universal yang lebih baik, memperluas peluang menempuh pembelajaran, dan membagikan otonomi desa yang lebih besar.

Masa Reformasi( 1998– Saat ini)

Pada Tahun 1998

Di tahun ini kementerian pertanian kehabisan arah. Disebabkan pudarnya pembangunan jangka panjang ke 6 yang jadi karakteristik khas sesi orientasi pemerintahan Orde Lama. 

Pada masa ini rakyat telah kehabisan keyakinan kepada pemerintahan, walaupun tidak seluruhnya, tetapi mendominasi. Dampak yang ditimbulkan sangatlah besar. Kegiatan- kegiatan penyuluhan serta intensifikasi pertanian melambat. Dan dampak lain  yang ditimbulkannya adalah rendahnya produktivitas pertanian tumbuhan pangan serta hortikultura.

Pada Tahun 2005

Pada tahun ini muncul rencana pemerintah dalam melaksanakan revitalisasi pertanian di Indonesia. Perihal ini ditindak lanjuti dengan UU Nomor. 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Peternakan serta Kehutanan. 

Setelah itu ditindak lanjuti dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor. 273 Tahun 2007 terpaut tentang penjabaran Penyuluhan Pertanian. Konsentrasi kenaikan penciptaan serta produktivitas komoditas pertanian ini membawakan Indonesia menggapai swa sembada beras ke 2 pada tahun 2008. Perihal ini ditunjang dengan akumulasi tanaga penyuluh pertanian lewat Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian( THL TBPP).

Pada Tahun 2010

 Pertanian di Indonesia menuju kepada pertanian organik. Pada awal mulanya pada tahun ini dicanangkan program pertanian organik, sebab banyak perihal tentang kekurangsiapan para petani di Indonesia menjadikan rencana pertanian organik diundur hingga 2014. Hendak namun pada tahun 2010 ini pemakaian pupuk kimia telah mulai dikurangi, serta pertanian organik mulai digalakkan di sebagian wilayah.

Fakta Tentang Sejarah Pertanian Indonesia

Padi Sudah Ditanam Sejak 3000 Tahun Sebelum Masehi

Pertanian 3000 yang lalu
portfolios.risd.ed

Disinilah sejarah pertanian dimulai Nasi adalah makanan pokok bagi orang Indonesia. Rupanya, padi sudah ditanam sejak 3000 tahun sebelum masehi! Bukti penanaman padi ini ditemukan di Pulau Sulawesi. Selama ribuan tahun, beras menjadi makanan pokok bagi masyarakat Indonesia, ungkap Jean Gelman Taylor dalam buku berjudul Indonesia: Peoples and Histories.

Bahkan, saking pentingnya padi bagi masyarakat Indonesia, penghormatan diberikan pada Dewi Sri, dewi padi yang dipercayai oleh orang Jawa Kuno dan Bali. Selain itu, bukan hanya menanam padi, masyarakat Indonesia di masa lampau juga menanam kelapa, aren, umbi-umbian, talas, bawang merah hingga buah-buahan tropis. 

Ditemukan Relief di Dinding Candi

Temuan replika pertanian didalam candi
idntimes.com

Untuk melihat seberapa penting pertanian bagi masyarakat Indonesia, bisa dilihat dari relief di dinding candi. Seperti di Candi Borobudur dan Candi Prambanan, di mana terdapat relief yang menggambarkan kegiatan pertanian. Ada pula prasasti batu yang menggambarkan raja yang meletakkan retribusi pada beras.

Ada pula relief di Candi Borobudur yang menggambarkan produk pertanian lain, seperti pisang, tebu, durian, manggis, kelapa, nangka dan apel Jawa. Hal ini dituturkan oleh Ary Sulistyo yang menulis publikasi berjudul “Ekologi Manusia dan Lansekap Desa di Indonesia” pada 2 April 2014 silam. Tulisan ini dipublikasikan di situs Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia.

Rempah-rempah Indonesia Mulai Diincar Bangsa Eropa

yogisaputra23.blogspot.com

Seperti yang kita ketahui, Indonesia adalah negara penghasil rempah-rempah. Bangsa Eropa mengetahui adanya rempah-rempah di Indonesia dan mendorong mereka untuk datang kemari. Yang paling dicari adalah pala, rempah asli Kepulauan Banda, Maluku serta cengkeh, rempah yang ditemukan di Maluku Utara.

Di abad ke-16, Portugis adalah bangsa Eropa yang pertama datang. Lalu, bangsa Eropa memonopoli perdagangan rempah-rempah seperti pala dan lada lewat VOC di abad ke-17. Lonjakan permintaan rempah-rempah yang tinggi ini membuat bangsa asing berbondong-bondong mendatangi Indonesia.

Belanda Melaksanakan Sistem Tanam Paksa

Sejarah pertanian
www.dictio.id

VOC dinyatakan bangkrut pada pergantian abad ke- 19. Dengan lekas, Belanda membuat Indonesia bagaikan negeri jajahan bernama Hindia Belanda. Secara formal, ini diisyarati bagaikan periode kolonial Belanda. Pemerintah Belanda mempraktikkan cultuurstelsel yang mewajibkan sebagian lahan penciptaan pertanian terbuat buat ekspor tumbuhan.

Periode cultuurstelsel ini berlangsung antara tahun 1830 sampai 1870. Sistem ini sebagian besar diberlakukan di Pulau Jawa serta sisanya di daerah lain. Tumbuhan komoditas buat tanam paksa merupakan tembakau, tebu, teh, kopi, kelapa sawit, kina serta karet. Pasti saja, yang dirugikan merupakan rakyat Indonesia, sedangkan Belanda mendapatkan keuntungan.

Lepas dari Cengkraman Belanda, jatuh ke Jeratan Jepang

Jepang menyerah
idntimes.com

Di tahun 1942, Hindia Belanda jatuh ke tangan Kekaisaran Jepang. Kala Jepang memahami, zona pertanian diawasi oleh Gunseikanbu Sangyobu. Hasil panen serta komoditas perkebunan dikendalikan oleh otoritas militer kekaisaran Jepang. Perang Dunia II( 1942- 1945) menimbulkan kelangkaan bahan pertanian serta merangsang kelaparan.

Oleh sebab itu, komoditas yang menekan buat ditanam merupakan beras buat dimakan dan kapas bagaikan bahan baku utama baju. Mobilisasi tenaga kerja dari rakyat kecil juga dikerahkan biar tidak terjalin kelaparan serta kekurangan baju. Perihal ini menyebabkan penciptaan tumbuhan lain jadi tersendat.

Kelapa Sawit Jadi Komoditas Utama

Sehabis merdeka, apa yang terjalin dengan zona pertanian Indonesia? Di masa Orde Baru yang dipandu oleh Soeharto, perkebunan kelapa sawit diperluas. Pada dikala itu, Indonesia merupakan produsen minyak kelapa sawit terbanyak di dunia. Indonesia pula jadi produsen utama kopi, karet serta kakao.

Soeharto pula meluncurkan program transmigrasi. Program transmigrasi ini bertujuan buat merelokasi petani yang tidak mempunyai tanah di Pulau Jawa serta dipindahkan ke zona yang tidak sangat padat, semacam Sumatra, Kalimantan, Sulawesi serta Papua. Petani ini diberi jatah lahan oleh pemerintah Orde Baru kala itu.

Apakah Saat Ini Indonesia Masih Dijuluki Negeri Agraris?

Dikala kita sekolah SD dahulu, kita kerap mendengar julukan Indonesia bagaikan negeri agraris. Apakah istilah itu masih relevan sampai saat ini? Bagi Kepala Tubuh Pusat Statistik( BPS), Suhariyanto, menyebut kalau Produk Dalam negeri Bruto( PDB) paling tinggi di Indonesia berasal dari zona industri, bukan pertanian.

Baginya, zona industri menyumbang perkembangan ekonomi sampai 19, 66 persen, sedangkan zona pertanian menyumbang cuma 13, 53 persen di urutan kedua. Tidak sedikit petani yang bergeser profesi lain dikala ini serta terus menjadi sedikit kanak- kanak muda yang mau jadi petani.

Nah tadi adalah sejarah pertanian yang cukup [najang dan juga fakta menartik tentang pertanian, semoga membantau dan Have A Nice Day .

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *